Terimakasih Atas Kunjungannya
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Juli 2017

Maaf Ayah

Maaf Ayah

"Maaf Yah, aku pulang terlambat."
"iya tak apa-apa. Besok jangan diulangi. Sudah masuk sana jangan ganggu ayah."

"Maaf Yah, aku tadi ambil uang di laci ayah."
"Oh, pantas saja tadi ayah cari tak ada. Ya sudah tak apalah, ayah mau melanjutkan pekerjaan ayah."

"praaaakkkk..."
"Aaahhh..."
"Maaf Yah, aku memukul kepala ayah. Aku muak dengan perlakuan ayah. Seharusnya ayah menghukumku dari dulu."
"..."

Rabu, 19 April 2017

Kota Tanpa Kata

KOTA TANPA KATA

Aku tak mengerti apa yang dilakukan orang-orang di kota ini. Saat mereka berpapasan hanya diam saling memandang mata kemudian tersenyum. Semua yang aku temui hampir melakukan hal yang sama. Sebenarnya ingin sekali aku bertanya pada salah satu dari mereka. Setelah aku pikir lagi, aku urungkan niatku karena rasanya kurang sopan dan juga takut menyinggung perasaan mereka.
"Ah, mungkin saja itu suatu salam atau cara menyapa di kota ini", pikirku sekedar ingin meredam keingintahuan.
Tetapi semua itu tetap saja mengganggu pikiranku. Kali ini aku memutuskan untuk menyapa seseorang jika berpapasan untuk mendapat informasi tentang kebiasaan orang di kota ini. Tak lama setelah itu, dari kejauhan tampak seseorang yang baru keluar dari sebuah gang sempit. Aku Percepat langkahku agar cepat berpapasan dengan orang yang berjarak cukup jauh dariku. Takutnya kalau tiba-tiba ia berbelok ke salah satu gang yang ada di sepanjang jalan ini. Memang di sepanjang jalan yang ku lalui ini hampir setiap berjarak tiga bangunan ada sebuah gang. Aku sempat memandang sebuah gang yang telah lewati tadi hanya berakhir pada sebuah tembok bangunan lain. Di gang lain setelahnya aku melihat deretan pintu di tiap sisi gang seperti sebuah tempat yang belum lama ini aku kunjungi.
"Guuk... Guuk... Guuk... Guuk..."
Lamunanku pun buyar tentang tempat itu.
Kini hal yang aku takutkan pun terjadi. Seseorang yang ingin aku temui itu telah menghilang. Aku tak sempat memperhatikan ke arah mana ia berbelok karena saat itu perhatianku tertuju pada seekor anjing yang menyalak padaku.
"Sial!", geramku menyalahkan diri.
Setelah aku ingat-ingat, sepertinya aku tahu posisi terakhir orang itu sebelum perhatianku teralihkan.
"Sepertinya di situ tak ada pintu masuk bangunan dan hanya ada gang", selidikku sambil mengingat.
Aku bergegas menuju gang itu untuk memastikan orang itu benar-benar memasuki gang sambil berharap ia tidak terlalu jauh. Perkiraanku tidak meleset. Aku bisa melihat punggung orang itu. Tanpa pikir panjang kubuka mulutku.
"permisi, boleh saya bertanya?"
Orang itu berhenti kemudian menoleh. Tak ada yang aneh dari wajah maupun penampilannya, sama seperti kebanyakan orang yang kutemui tadi. Tapi aku mulai menyadari, tatapan matanya yang tajam langsung menatap mataku sementara bibirnya membentuk senyuman.
"Jangan katakan kata itu lagi! atau kau pergi dari kota ini."
Suara membentak tiba-tiba terdengar menggema di otakku entah dari mana datangnya dan bagaimana bisa. Aku mulai bingung untuk menemukan sumber suara itu. Karena hanya ada orang itu di sekitarku.Tapi orang di depanku itu tak menggerakkan bibir sama sekali dari tadi. Aku bisa memastikan itu. Bibirnya tetap terkunci dalam senyum yang sama. Sama persis seperti semua orang yang aku temui di kota ini. Kota tanpa kata.

Mjk19042017
~RK~

Selasa, 18 April 2017

pertemuan kedua

Sebenarnya kita telah berkenalan. Tapi setelah itu kita tidak pernah bertemu lagi. Mungkin dia sudah tak ingat padaku karena aku mengira banyak makhluk bermodel sepertiku yang telah ia jumpai. Namun bagi siapapun tak sulit untuk mengenali gadis sepertinya. Pipinya yang selalu terlihat membulat terbentuk dari bibir tipis yang selalu tersenyum membuatnya tak mudah dilupakan. Juga mata bulat penuh semangat mampu membuat kesan bagi siapapun yang menatapnya.
Aku tak lantas menyapanya saat kami bertatap muka. Aku menunggu respon dari ingatannya tentangku. Tak ada respon apapun darinya, membuatku semakin ragu untuk menyapanya.
Sebenarnya aku juga tak ingin kehilangan momentum untuk kembali mengingatkan dia tentang aku, tentang pertemuan pertama kita. Ku kumpulkan seluruh keberanianku sebagai tenaga untuk membuka mulutku. Dengan sedikit keraguan aku menyapanya,
"meong..."
Dia menoleh kearahku dan berkata,
" Hai puss..puss .. manis. lama tak jumpa, kemana aja? "

Mjk17042017
~RK~

Jumat, 17 Februari 2012

Sisir vs Tusuk Gigi, 12 Tewas


Sisir vs Tusuk Gigi, 12 Tewas
            Pagi merangkak perlahan seolah mengikuti komando jarum jam. Terdengar suatu percakapan pemecah hingar bingar metropolitan.
 "Iiih...jorok, jangan deket-deket  gue donk", teriak Sugi.
Sugi adalah sebuah tusuk gigi yang notabene sangat ketat menjaga kebersihan.
 "Apaan sih!? Biasa aja deh", balas cici yang merasa tersinggung dengan perlakuan Sugi.
 "Itu lho badan lu yang bau and dekil banget, iiihh... jijai deh", celetuk tusuk gigi dengan gaya-gaya kecentilan mirip artis-artis lebay.
 "Ah, jangan sok deh lu Sugiraaaah. Emangnya lu pikir lu tu siapa? Kerjaan lu tu gak lebih dari pembersih sisa kotoran di gigi. Apa tu gak lebih jijai, hah???", timpal cici penuh kekesalan memuncak.
 "Sialan lu, seenggaknya kerjaan gue lebih mulia bisa nyegah sakit gigi. Lha, kalo lu cuma sisir aja belagu. Udah berapa taon lu gak dicuci? Di geletakkan gitu aja habis pake, kasian banget hidup lu.", celoteh Sugirah tak mau kalah.
 Suasana semakin memanas diiringi semakin membumbungnya sang surya.
 "Hey, makhluk sekali pake... Bangga banget lu jadi makhluk sekali pake. Habis dipake dihempasin gitu aja tanpa ada yang mau nyentuh lu lagi. Sekalipun aku kotor dan bau, aku masih dipake lagi. Hehehe...", ejek si sisir kuning yang sudah tak karuan lagi kondisinya sambil terkekeh.
Tanpa banyak omong lagi, sugirah bersama kawanan tusuk gigi lain dengan bersungut-sungut menyerbu Cici berniat menjatuhkannya.
Suara keributan di dashboard Xenia tersebut tak mau kalah dengan bising metropolitan siang itu. Dengan sekuat tenaga Cici menahan amukan puluhan tusuk gigi yang membabi buta, namun batas kemampuannya telah terlampaui. Dia merelakan tubuhnya terjun bebas dari atas dashboard. "Praakk", hanya suara itu yang diingatnya setelah itu tergantikan suara yang lebih dahsyat.
"Ckkiiiittt...Bruaaakkk, Bruaaakkk", terdengar suara yang sama berulang-ulang ditambah jerit dan tangis memilukan.
####
            Di sebuah ruang kerja yang pengap penuh atmosfer keras, seorang wanita muda gemuk menuturkan kisah sisir dan tusuk gigi dengan detail. Di seberangnya, seorang pria berkacamata dengan seksama menyimak cerita itu penuh tanda tanya di kepalanya. Jemarinya sibuk memasukkan huruf demi huruf yang mengalir dari mulut perempuan itu kedalam monitor di depannya. Sesekali seulas senyum geli tergambar dari bibir kering di bawah kumis tebalnya. Tak disangkanya kali ini ia mendapat kronologi sekonyol itu dari sekian interogasi yang ia lakukan selama bekerja. Namanya Dani, salah satu anggota kepolisian yang bertugas menginterogasi para pelaku kriminal yang baru masuk. Tak terasa, setengah jam telah dilaluinya besama racauan wanita gendut tentang kisah sisir yang dikeroyok puluhan batang tusuk gigi. Mimpi apa semalam, keluhnya sambil mendengus panjang. Bisa-bisanya perempuan gila ini ada di sini mengisahkan dongeng pengantar tidur, seolah tahu matanya sedang berontak. Bagaimana tidak, semalaman dia dengan penuh gairah bercumbu dengan PC. Berharap besok pagi kebebasan memihaknya. Tapi sepertinya nasib lebih berkuasa. Waktu atasan memberi komando, tak ada kata tidak baginya. Namanya juga mengabdi, kalau tak berkorban tak akan afdhol. Menurut informasi, si gendut di seberang matanya itu telah membuat heboh jalanan ibu kota. Mobil yang dia kendarai telah sukses menghancurkan apa saja di trotoar jalan, termasuk menumbalkan 12 nyawa manusia. Tak terbayangkan, bagaimana perempuan yang memang telah dikuasai minuman setan itu melakukannya tanpa dirinya terluka. Pernah berguru di Banten kali ya? Atau dia stuntwoman yang tengah latihan? Pikir Dani sambil ngakak di hatinya.
  "maaf Ibu...", Dani memulai percakapan tapi terputus.
  "Yanti", lanjut perempuan itu cepat.
  "Iya Ibu Yanti, bisa ceritakan apa yang anda lakukan waktu..."
  "Krriiiiinngg...", tiba-tiba benda temuan graham bell di meja kerjanya menjerit.
  "Maaf, sebentar bu", pintanya sambil mengangkat gagang telpon.
  "Halo, selama siang", celotehnya memulai percakapan
  "Halo mas, ini Rena adikmu", suara di seberang menjawab.
  "Iy Ren, ada apa?"
  "Anu Mas, anu... Hiks, hiks,hiks."
  "Rena, anu-anu kenapa? Kamu kok nangis gitu. Bertengkar lagi sama suamimu?"
  "Bukan Mas, anu... Gimana ya aku ngomongnya Mas? Hiks, hiks", terdengar isakan lagi dan membuat Dani makin tak karuan dibuat bingung.
  "Ren, tenang. Ada apa? Ceritakan pelan-pelan."
  "Emm... istri dan anak mas... meninggal dalam kecelakaan maut tadi pagi... Maaf mas aku baru bisa kasih kabar sekarang."
Sendi-sendi penyusun tubuhnya melemas. Seluruh otot menegang. Panas merambat diseluruh tubuh entah dari mana sumbernya. Keringat dingin mengucur deras tak terbendung. Dani tak mampu menguasai tubuhnya.
  "Mas... Mas... Mas...", panggil Reni khawatir.
  "Bruuuk",tumbanglah ia seketika seperti Cici, si sisir bau yang terhempas dari atas dashboard. Setelah itu sepertinya gelap leluasa menguasainya. Dan harapan untuk istirahatnya pun terwujud. 

Kamis, 16 Februari 2012

Bait-bait Puisi untuk Nirmala


Bait-bait Puisi untuk Nirmala
Aku termenung dipagi buta ini. Pagi buta? Orang-orang dengan seenaknya menceploskan istilah kejam itu. Aku tak mengerti makna sesungguhnya tapi tetap ku ikuti, mungkin mereka juga. Ah sudahlah, kita tandaskan istilah itu. Toh masalah sebenarnya bukan disitu. Kalau dikatakan termenung, tidak sepenuhnya. Jemariku telah asyik memainkan lembaran-lembaran sebuah buku yang coba ku telanjangi isinya. Sesekali 'deg' begitu hebat menyerang jantungku, atau mungkin lebih dari satu 'deg'. Suasana yang begitu sunyi menyeretku dalam sendu yang mengiris batinku. Tak banyak yang ku perbuat, tak ada teriakan penyesalan, tak ada pukulan kalap, tak ada makian-makian kasar. Semua itu kini telah sukses ku jejalkan dalam hati yang semakin sempit. Dan terkonversi berupa air mata. Ya, hanya air mata di pagi butaku.
"Sayang, hari ini aku seneeeng banget. Bangeeeet malahan. Hari ini akhirnya harapanku terwujud bisa kau ajak jalan-jalan, meski hanya buat nemenin beli kado untuknya. Tapi ini suatu awal buatku masuk duniamu."
28 Oktober 2008
Ku mulai lagi dari halaman awal, tapi yang aku maksud bukan yang awal sekali. Halaman awal itu selalu membuat bibir tersenyum meringis meski diakhir bisa jadi akan dibuat menangis. Kontras sekali dengan film india jadul yang diawal sedih dan berakhir bahagia.
"Waaaaooow, gak nyangka aku bisa sedekat ini denganmu. Kamu udah percaya padaku dengan curhat-curhat setiap hari, ya apalagi klo bukan tentang dia, hemch... Tapi aku bahagia"
10 November 2008
'Deg' kembali menusuk dengan telak seketika. Kadang aku mengumpat melaknat apapun atau siapapun penyebabnya. Ya, aku juga sadar tak akan ada yang memberi respon. Terlihat penulis menuturkan kisah itu dengan perasaan melayang mungkin. Bagaimana tidak, jelas-jelas menyakitkan malah mengungkapkan bahagia. Aneh sih, atau mungkin hanya orang sepertiku saja yang tak akan bisa menerima hal itu. Atau bisa jadi hal seperti itulah yang dimaksud orang-orang cinta buta.
"Ahhhh... Aku semakin tak bisa menahannya. Ya Tuhan tolong sampaikan rasaku ini padanya, please.... Aku ingi hanya aku seorang di hatinya. Terlalu muluk kah permintaan itu Tuhan?T_T
Atau kah aku harus mengikhlaskannya dia bahagia dengan pilihannya? Jika itu terbaik baginya aku akan berusaha Tuhan meski aku yang harus menanggung kesedihanku sendirian"
15 November 2008
Semakin sesak dan terlalu sesak dada ini hingga tak mampu menampung rasa yang bisa dibilang kesedihan ini dan tanpa komando pecahlah bulir-bulir air mata.

"Tuhan, aku tak sanggup lagi... Maafkan aku Tuhan, maafkan aku kekasihku yang tak pernah ku raih. Hanya kau di hatiku meski raga tak mampu aku rengkuh. Percayalah, aku menunggumu sampai kapan pun. Maaf, aku harus pergi, aku harus tetap menjaga hatiku. Salam sayang selalu untukmu Ariz ku"
28 Januari 2009

Sepersekian detik kemudian, otakku memutar kembali rekaman kejadian itu. Kejadian yang benar-benar tak ku harapkan.
###
Siang itu otakku benar-benar mendidih dibuatnya, ditambah lagi sang batara surya menyengatkan panasnya tanpa ampun seakan-akan beberapa meter saja di ubun-ubun. Betapa tidak, seseorang yang selama ini ku sebut pacar telah tega menamparkan kelakuannya di mukaku. Di depan teman-temanku, di depan orang-orang yang selama ini mendengar aku membanggakannya. Dia, dengan ringannya lewat bermesraan dengan  orang lain seperti tanpa dosa. Sontak saja aku kalap. Tanpa pikir panjang ku hujamkan kepalan jemariku membabi buta ke muka orang yang sok kecakepan, tapi kuakui memang ganteng sih. Kalau saja tak dilerai teman-temanku, aku tak tahu nasibnya gimana, walaupun emang tak ada yang tahu sih nasib orang dan kenapa aku pikirin.
"Udah lah sob, jangan kaya' anak kecil deh!! Gak malu diliatin orang?", Qoirul menenangkan.
"Sekarang udah jelas kan siapa cewek itu? Dari dulu dibilangin gak percaya sih. Katanya udah tobat lah, udah berubah lah. Huh, Bullshit", Reza menimpali.
"Udah deh Rez, kamu gimana sih? Temen lagi sedih gini malah dipojokin. Kasihan tau", Potong Anita Tegas.
"Iya, iya deh bawel", jawab Reza sambil tangannya mengacak-acak rambut gadis manis itu. Tentu saja gadis itu terganggu dan terlihat membalas dengan cubitan dilengan Reza.
"Ries, sory ya? Aku gak bermaksud memojokkanmu kok. Aku cuma kesel aja tadi", maaf Reza padaku.
Aku hanya mengangguk tanda mengiyakan. Sementara aku masih merasa panas tak tertahankan, mataku masih terlihat seperti menyala kemerahan. Kalau dalam game mungkin aku dalam wujud mode iblis. Akhirnya ku putuskan hengkang dari tempat pahit itu. Teman-temanku menawarkan untuk mengantar, tapi tak ku perbolehkan. Aku meyakinkan bahwa aku baik-baik saja meskipun kenyataannya tidak demikian. Di perjalanan, ku pacu motorku dengan perasaan tak tenang. Proyeksi jalanan di depanku tak sampai menyentuh otakku. Otakku masih dikuasai oleh lamunan kosong yang terkadang juga timbul wajah-wajah brengsek yang selalu mengejekku.
"Cckkiiiittt...Brukk...", suara ban berdecit disusul suara benda jatuh ditanah. Seketika memecah keheninganku. Sempat terekam olehku sesuatu melintas didepanku dan refleks tangan dan kaki segera mengerem, tapi terlambat. Sosok perempuan, masih muda, bersimbah darah tergeletak tak berdaya di depanku.
###
"Aku tak percaya, aku melakukannya, aku membunuh orang yang benar-benar mencintaiku dengan ketulusannya tapi aku tak menyadarinya, aku membunuh orang yang mengorbankan perasaannya untuk kebahagiaanku, aku kejam, aku tak pantas di sebut manusia", laknatku pada diriku sendiri.
"Ya Allah ampunilah aku. Aku sungguh menyesal menyia-nyiakan cinta tulusnya. Kini aku baru menyadarinya di saat kehilangan sosoknya. Apa yang harus aku perbuat ya Allah, beri aku petunjukmu."
"Ya Allah ya Tuhanku, Penguasa Surga dan Neraka. Persatukanlah hamba dengannya kelak di surga-Mu yang indah itu. Biarlah hamba menanggung penderitaan karena ujian-Mu di dunia ini, tpi ijinkanlah hamba berbahagia di akhirat-Mu kelak", jeritku dalam hati.
Nirmala, nama yang telah terukir indah dalam sanubari hatiku sejak saat itu kusadari. Kini dia telah benar-benar pergi meninggalkanku dalam penyesalan, meninggalkan dunia, meninggalkan cintaku. Yang tersisa hanyalah pondasi cinta yang telah lama dibangunnya dalam hatiku dan sekelumit kisah perjuangan keras penuh derai air mata yang tercurah dalam buku di genggamanku.
Aku selalu menciptakan sosokmu dalam duniaku yang sepi dengan berbekal catatan-catatan kecil di setiap halaman buku itu. Kulakukan ritual itu setiap hari sebelum memulai hidupku yang penuh misteri. Rohmu hadir setiap ku resapi aksara-aksara yang bermakna buatmu dulu. Dan kini telah kau wariskan padaku.
"Pak, kopinya ada di meja. Ibu pergi ke pasar dulu ya, titip anak-anak", seorang perempuan hadir memecah keheninganku. Hanya sebuah anggukan dariku dia sudah paham dan segera berlalu. Ya, dia istriku, aku sudah berkeluarga dengan dua anak. Sebelum ritual kuakhiri, selalu kubacakan sebait puisi untuk Nirmala

Nirmala...
Untaian namamu selalu hibur ragaku dalam sepi
Rohmu menari lincah disetiap sudut pikirku
Tak kuasa mata ini menolak rasa indahmu
Tak mampu diri ini menahan sorot lembut penuh keanggunan
Nirmala...
Sang dewi malam iri pada keelokanmu
Bintang-bintang akan menyambutmu penuh rasa rindu
Desir angin mengantarmu bertahta di singgasana hatiku
Nirmala...
Kau selalu hadir warnai hidupku Hidup dalam atmosfir kegundahan sarat akan mimpi-mimpi kosong
Angin sejuk yang kau hembuskan mampu membiusku
Saat diriku terkejap kau telah ditelan kesemuan


15 Februari 2012
-RK-

Selasa, 14 Februari 2012

Terperosok Lubang

Terperosok Lubang
Mendung pagi ini mengurungku dalam ketidakpastian, meski aku sadar
masa depan tidak ada yang pasti. Awan hitam bergerombol menari-nari
membuat penikmat aktivitas pagi perlu berpikir sebelum menjejak jalan
tanpa kawan jas hujan maupun payung. Keraguan menyapaku sejenak
sebelum aku putuskan tetap pergi meski harus berkawan butiran air
langit yang selama hampir seminggu tak aku jumpai. Tak butuh waktu
lama, aku sudah melenggang di jalan raya yang lumayan sepi dari
biasanya sambil memacu motor santai. Tentu saja di tubuhku melekat
kostum wajib pesta hujan yang tak ku ingat kapan terakhir sengaja
dicuci. Kenapa mesti dicuci kalau tiap hujan pasti tersentuh air,
pikirku konyol. Di sepanjang jalur yang ku lalui kusempatkan melirik
arah kiri sekedar mengamati derita orang-orang tanpa persiapan bertemu
tetes-tetes hujan. Di kanan jalan terbentang salah satu sungai besar
di jawa, orang-orang biasa menyebutnya Brantas. Entah kenapa dinamai
sungai Brantas, mungkin karena sungai itu siap memberantas desa-desa
di sekitarnya, pikirku sambil cekikikan dalam hati.
"Jancoook...", terdengar jelas olehku umpatan fasih penuh amarah
yang juga sudah mendarah daging ku dengar di kota ini.
Celingak-celinguk mataku mulai membrowsing sumber pelantun kata tadi.
Akhirnya tertangkap oleh mataku suatu pemandangan tak aneh lagi di
jalanan. Kudapati seorang manusia tengah bergulingan di aspal becek,
jangan berpikiran dia melakukan dengan sengaja. Tidak jauh darinya
seorang lelaki kekar berkulit gelap berambut gondrong dengan wajah
sangar masih bertengger di atas sepeda usangnya. Wajah tak ramah aku
tafsirkan dari sorot mata dihiasi alis dan kumis tebalnya ditambah
umpatan kasar yang senantiasa keluar dari bibir hitamnya, yang
menandakan seorang pecandu rokok. Seketika pandanganku ku tujukan
kembali ke sosok yang mulai bergerak mencoba untuk bangkit itu, sama
sepertiku yang mulai bangkit dari lamunanku tentang pria sangar itu.
"Lho pak, knapa ndak ditolong toh?", ku beranikan bertanya sambil
kuparki motorku ditengah jalan bermaksud agar tidak ada yang lewat.
"Gak ngurus, salah'e dewe nyebrang gak tolah-toleh", ucapnya kasar
mengalir tanpa perasaan.
Tak salah aku menduga tadi, memang sesuai dengan mukanya yang terlihat bengis.
"Aneh, kok sepi banget ya?", ungkapku dalam hati sambil mencari
tanda-tanda kehidupan manusia lainnya. Yang terlihat hanyalah jajaran
toko-toko yang masih tutup dan bibir sungai Brantas. Lantas aku
berjongkok untuk melihat keadaan orang yang masih tergeletak. Ku
pegang pundaknya mencoba membantunya untuk duduk. Sepersekian detik
kemudian dia sanggup duduk dan menoleh. "Subhanallah", jeritku dalam
hati.
Seraut wajah cantik putih meski terbalut mimik kesakitan dan sedikit
percikan tanah basah menatap ke arahku. Seketika mataku merekam wajah
itu dan mentransfernya ke otak membuat sistem transportasi dalam
tubuhku memacu lebih cepat. Aku tak mampu menemukan jawaban atas apa
yang terjadi dalam diriku saat aku hubungkan dengan pelajaran biologi
di SMA meskipun tak sempat juga aku mencarinya. Yang aku tau diriku
tengah terperosok ke dalam lubang namun tak ku rasakan sakit. Kata
orang sih lubang itu dinamakan lubang cinta.
"Mas, kenapa?", tiba-tiba suara lembut membuyarkan lamunanku.
"Oh, ndak apa-apa. Sampean gimana keadaannya?", jawabku gelagapan
sambil tertunduk.
Belum sempat mendapat jawaban yang sengaja aku tunggu, sesuatu yang
keras menjamah tengkukku dengan kasar. Sontak saja penglihatanku mulai
kabur, sepertinya dunia mulai melepaskan diri dari mataku.
Aku berpikir apakah aku kali ini benar-benar akan terperosok ke dalam
sebuah lubang? Entah lubang cinta yang ku bayangkan tadi atau lubang
jebakan, mungkin juga lubang maut. Yang pasti terperosok lubang itu
sakit, umpannya hanyalah kesenangan semu.
Kini gelap telah membalutku.
RK
Mojokerto, 14 Februari 2011

Selasa, 22 September 2009

SESAL ITU MEMBUNUHKU

SESAL ITU MEMBUNUHKU


“Huaaah….., mata udah nggak bisa di ajak kompromi.” Kata temanku sambil menutup mulutnya dengan tangan.
“Sabar dikit donk. Sebentar lagi pasti udah kelar.” Kataku merespon.
“Udah kelar katamu? Lihat tu masih setumpuk lagi. Si gendut kalau ngasih tugas nggak kira-kira dulu. Mungkin sekarang dia lagi enak-enakan ngorok?”
“Udalah jangan ngeluh terus, nanti malah nggak kelar-kelar. Lagian ini resiko kita sebagai bawahan.”
“Iya sih, tapi jangan seenaknya kayak gini. Ini sih udah keterlaluan.”
Aku hanya tersenyum kacil untuk membalasnya. Aku berpikiran tak ada guna mladeni orang yang sedang kesal. Bisa-bisa aku malah bertengkar. Diapun akhirnya diam setelah tak ada respon dariku. Suasana kembali hening. Hanya terdengar suara langkah jarum jam dalam kesepian.
“Hi...hi...hi...”, suara cekikikan memecah keheningan.
“Masya Allah”, kataku spontan.
“Sory, kaget ya? Ini cuma suara nada deringku”, kata supri merogoh hpnya yang masih cekikikan dalam saku.
Saat supri sedang menerima telepon, aku tetap melanjutkan pekerjaanku yang masih tinggal setengah lagi.
“Innalillahi wa’innaillahirroji'un”, ucap supri kaget.
“Ada apa, Pri?”, tanyaku ingin tahu.
“Mertuaku di Surabaya meninggal, dan sekarang aku diminta istriku pulang dan pergi ke Surabaya malam ini juga.”
“Innalillahi wa’innaillahiroji'un, sudahlah cepat pulang. Kau pasti tahu perasaan istrimu kan?”
“Tapi gimana lagi dengan tugas-tugas ini? Kan belum selesai.”
“Udah nggak apa-apa biar aku yang urus. Lagian urusamu kan lebih penting?”
“Bener nggak apa-apa? Sory banget lho udah ngerapotin kamu lagi.”
“Udah cepet, sebelum aku barubah pikiran lho.”
“Ok, thanks ya. Kamu memang temen sejatiku. Kutinggal dulu ya? Assalamualaikum.”
“Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya.”
Suasana sepi kembali. Kini lebih sepi. Yang terdengar Cuma suara napasku yang mulai ngos-ngosan. Rasa kantuk tiba-tiba menyerangku. Awalnya kurasakan hanya sedikit, tapi lama-lama rasa itu semakin telak mengenaiku. Hingga akhirnya aku berada dalam keadaan tak sadarkan diri alias tidur.

Seberkas cahaya kuat membuatku terjaga.
“Masya Allah, aku tertidur.”
Kutatap jam dinding yang jarumnya masih tetap bergerak-gerak seperti kemarin. Tapi saat ini terlihat seolah-olah mengejekku. Angka tujuh kali ini menjadi pilihan jarum pendek. Pandanganku kuputar kearah tumpukan kertas yang seakan berteriak-teriak ingin kujamah. Tanpa pikir panjang, aku segera mengabulkan keinginan kertas-kertas itu satu persatu.
“Alhamdulillah”, ujar lega.
Tugas-tugas itu terselesaikan ketika jarum pendek telah pindah dua angka. Aku bergegas menuju kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan gosok gigi. Keadaan kantor begitu sepi karena hari ini hari minggu. Setelah itu kusempatkan menjamah benda yang sejak kemarin malam tak terjamah. Handphoneku. Bagitu aku aktifkan serbu pesan singkat datang silih berganti.
Pesan pertama kubuka.
“Ka’ jam segini ko’ lom pulng”
Kuhitung ada empat kali pesan yang sama juga dari pengirim yang sama. “Imelda” adik perempuanku.
“Asslm Woe... boz!! Gmn acra mancingx? Jd g’”
Dari pengirim beridentitas “Joy”
“Astghfirullah, aku kan punya janji sama temen-temenku jam sepuluh.” Secara langsung pandanganku kusorotkan pada jam dinding saat itu menunjukan 46 menit meninggalkan jam 9. Aku bergegas keluar menuju kendaraanku.
Lalu lintas hari ini cukup lengang. Tak begitu banyak kendaraan pribadi yang keluyuran. Aku memutuskan pulang dahulu dan meminta teman-teman menjemputku di rumah. Saat hampir melewati depan rumah supri, ku saksikan dari kejauhan banyak orang keluar masuk mengenakan pakaian serba hitam. Aku sempat berpikiran kalau mertua Supri yang meninggal dibawa kesini dan akan di makamkan di kota ini juga. Kucari nama “Joy” di buku teleponku,
“Assalamualakum Joy. Sory kemarin hpku nggak kuaktifkan.”
“Walaikumsalam. Nggak apa-apa Bob, aku ngerti kalau kamu super sibuk. Terus mancingnya jadi nggak?”
“Sory Joy, kali ini aku nggak bisa lagi. Aku sekarang mau melayat kerumah temenku. Mertuanya meninggal.”
“Wah, kebetulan kalu gitu. Anak-anak kayaknya juga banyak yang nggak bisa ikut. kalau saja jadi, mungkin Cuma aku, kamu dan si Zombi yang bisa.”
“Kalau gitu kapan-kapan kita bikin acara lagi aja. Udah dulu ya”, Ujarku mengakhiri
“OK.”
Dari dalam rumah Supri kudengar lafalan-lafalan ayat-ayat Qur’an oleh para pelayat. Kuparkir motorku ditempat yang sengaja disediakan untuk para pelayat. Bergegas aku ingin menamui Supri dan istrinya untuk sekedar menyampaikan rasa bela sungkawa.
Diriku bagai disambar petir di siang bolong ketika kulihat ada dua jenazah yang terbaring yang diujung tubuh bagian kepala terpampang foto Supri dan Istrinya. Aku sempat tak mempercayai apa yang sedang kulihat, mungkin ini sisa mimpi burukku kemarin malam. Anggapan itu sirna saat mas Herman. Kakak Supri menyambut kedatanganku dan memperslahkanku memberi penghormatan terakhir pada almarhum Supri dan Istrinya.
“Sulit sekali nomor kamu dihubungi. Ketika kuhubngi nomor telepon rumah katanya kamu belum pulang”, keluh mas Herman.
Keluhan Mas Herman tak ku tanggapi. Pikiranku masih kacau. Antara percaya dan tidak. Mengapa bagitu singkat ini terjadi. Canda tawanya kekesalannya, bahkan makian pada bos kemarin malam masih segar dalam benakku. Waktu itu aku tidak sadar kalau itu adalah senyum, makian, tawa, terakhir kalinya.
Ingin aku memaki diriku sendiri. Ingin aku mengutuk perbuatanku yang seakan-akan menjerumuskan orang lain ke lembah maut. “Mengapa aku menyuruhnya cepat pergi waktu itu. Mungkin itu takkan terjadi jika tak kusarankan cepat pergi.” Pikiran-pikiran itu yang terus mengahatui diriku. Aku belum bisa menerima kenyataan ini. Disela-sela kekacauan muncul bayangan-bayangan kecelakaan delapan tahun silam yang merengut nyawa kedua orang tuaku.
“Yah, paman tadi telepon. Katanya nenek sakit dan ayah sama ibu diminta cepat kesana”, kata kataku ketika ayah dan ibu baru pulang.
“Yaudalah, basok saja.”
“Lho kok besok sih. Kata paman tadi disuruh secepatnya.”
“soalnya ayah nanti malam ada acara rutin di RT kita. Kalu nggak datang apa kata tetangga nanti?”
“Gimana kalau aku yang mewakili. Ayah berangkat saja. Masalah nenek sakitkan lebih penting”
“Bener, kamu mau? Kamu nggak malu ngumpul sama orang tua-tua”, sahut ibu seolah mengejek
“Nggak apa-apa kok Bu. Ini demi nenek jugakan. Lagian dari dulu aku pengen tahu apa sih yang di omongin orang tua-tua.”
“Yaudah kalu gitu ayah dan ibu berangkat dulu ya, jaga adikmu baik-baik. Kalau kamu mau keluar, titipkan dia dirumah Bu Fitri. Dan yang penting pegang janjimu. Jangan sampai nggak datang.”
“OK, beres pokoknya. Hati-hati ya.”
Tak kusadari itu merupakan pesan terakhir beliau. Saat kuterima telepon dari seseorang dan memberi tahuku ayah dan ibu mengalami kecelakaan. Tubuhku bergetar hebat. Air mata mengalir tak terbendung bahkan aku sempat tak sadarkan diri.
Kini kejadian itu seperti itu terulang lagi dalam hidupku. Kehilangan orang yang sudah kuangap seperti saudaraku sendiri.
“Dasar pembawa sial, kau tega menjerumuskan kami dalam keadaan ini”, suara itu menggema dalam otakku.
“Anak Durhaka! Kau telah membuat kami menderita. Itukah balasanmu pada kami”, kali ini suara yang 8 tahun hilang dari pendengaranku terdengar dengan nada marah.
Samar-samar muncul 2 pasang manusia dalam pandanganku yang saat itu terguncang hebat.  Mereka muncul dengan di balut pakaian serba putih dan melayang di udara. Wajah ke empatnya sudah tak asing dari pengeliahtanku. Ayah, Ibu, Supri, dan Istrinya. Mereka tersenyum sinis.
“Ikutilah kami, jika kau ingin bahagia bersama kami”, kata ayah yang nadanya berlawanan dari sebelumnya.
Tak teduga, mereka berempat melayang-layang menuju kearahku seolah ingin memaksaku
“Tidak........”, Teriakku yang mungkin menbuat orang yang hadir terkejut.
“Pergi... Pergi... Pergi...”
“Ada apa Bob?”, Suara Mas Herman cemas
Tanpa menjawab pertanyaan Mas Herman, aku langsung lari keluar rumah menjauhi empat sosok yang terliahat masih mengejarku. Aku terus berlari tanapa memperhatikan sekelilingku. Mungkin orang disekelilingku sudah menganggap gila. Aku tak tahu dimana sekarang berada. Yang kupikirkan hanyalah lari. Menjauhi keempat wajah pucat tadi. Hingga tak kusadari kakiku merasakan panasnya aspal siang itu. Pertanda aku sampai di jalan raya. Terdengar suara klakson di sisi kiriku dan “Ckiii..t, bruaaak”. Tubuhku tarasa membentur benda keras. Rasa yang di timbulkannya membuatku merasa terbang kemudian kegelapan menyelimutiku.





Ryuz@_L

buat day
saat kehampaan menerkam hati
kau ada dg sejuta panah cinta
terpaan angin kebosanan
tak mampu hempaskan kesabaranmu
kala riang tertindih nestapa
kepakan sayap cintamu berikan sejuk dihati
kau puspita hati
kau punggawa jiwa
yang tumbalkan segalanya
demi cinta



RK